If you hear Music then you are listening to Radio ArtsIndonesia

Performance Reviews
Artsignlog0227

Review of the Aula Simfonia Inauguration Concert

Michael Budiman Mulyadi

Aula Simfonia: Sebuah Kemegahan di Titik Awal

Memang benar, akhirnya Jakarta memiliki
sebuah ruang konser yang representatif. Ya, Aula Simfoni Jakarta
akhirnya dibuka untuk umum sejak Sabtu kemarin melalui rangkaian Konser
Inaugurasi yang sedianya akan dilaksanakan sampai dengan tanggal 24
Oktober ini.
Gedung mulai dibangun sejak tahun 2004
ini membuktikan diri bahwa kualitasnya memang satu kelas di atas
rata-rata gedung serupa dengan kapasitas sekitar 1200-an tempat duduk
di Jakarta. Dengan kapasitas yang nyaris penuh malam itu terbukti bahwa
aula tersebut memiliki akustik yang baik.
Seluruh gedung yang didominasi warna
coklat kayu memang terasa hangat di mata. Tidak berhenti di situ saja,
pelapisan kayu pun juga menjadi media refleksi suara yang baik. Yang
istimewa dari aula yang didesain oleh Pdt. Stephen Tong ini adalah
hampir seluruh interior dilapisi oleh lapisan kayu, dari langit2,
dinding dan juga lantai. Semuanya ini menambah reverberasi gedung
secara keseluruhan. Alhasil, suara dari panggung pun terdengar hangat
dan tetap terjaga detailnya di kejauhan dan hampir sama di setiap sudut.
Dihiasi foto2 besar para komposer
kenamaan musik, dan juga patung-patung keemasan semakin mempertegas
pengaruh banyak gedung-gedung konser di dunia. Patung-patung keemasan
yang mengisi setiap sudut ruang konser mengingatkan penulis pada Boston
Symphonic Hall dan Wiener Musikverein.
Di setiap sudut yang sama juga
terpampang foto-foto komposer besar musik yang namanya terus kita
dengar sampai dengan hari ini. Dengan ukuran yang cukup besar dan mampu
dilihat oleh kebanyak penonton gedung, lukisan-lukisan ini mengingatkan
kita semua pada gedung konser di Konservatorium Moskow yang juga
memampangkan banyak imaji komposer-komposer terkemuka.
Tidak lupa dengan organ pipa yang yang
saat ini masih langka ditemukan di Indonesia. Dilengkapi dengan 3.217
buah pipa suara, organ pipa ini menjadi organ pipa pertama yang
melengkapi sebuah ruang konser di Indonesia, menjadikan gedung konser
ini benar-benar lengkap seperti kebanyakan gedung konser dunia.
Konser Inaugurasi

Jessie Chang, seorang pianis kelahiran
Taiwan yang membawakan ‘Emperor’ Piano Concerto no.5 dari Beethoven,
bermain dengan luar biasa, penuh gelora, dengan tone dan warna suara
yang juga sangat kaya. Jessie sendiri mengambil pendekatan karya yang
cukup konvensional namun selalu dieksekusi dengan tepat dan meyakinkan,
menjadikan karya terdengar dengan karakter yang mendalam namun dekat
dengan pendengarnya.
Jahja Ling secara umum menguasai benar
orkestra malam itu. Di bawah pimpinannya, orkes terdengar sangat hidup
dan bersemangat seakan berubah menjadi orkes yang begitu bersinar.
Seksi tiup yang sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dipadu dengan
seksi gesek yang bermain lepas namun tetap terarah; semuanya merupakan
bentuk nyata dari kepemimpinan Jahja yang memandu seluruh karya dengan
apik.
Di babak kedua giliran Magnificat dari
Bach dan Stephen Tong yang memimpin. Sebuah pemilihan karya yang luar
biasa, kali ini orkes didukung Jakarta Oratorio Society dan 5 orang
soli. JOS tampil dengan lebih dari 100 personel, jumlah yang sebenarnya
terlampau banyak untuk sebuah karya jaman barok. Akan tetapi sangat
terasa jelas kemegahan karya itu, walaupun harus dikatakan untuk
memimpin gerombolan musisi dan penyanyi sebanyak itu sangat tidak
mudah. Stamina dan presisi pun bisa menjadi korban.
Solois pun tampil dengan prima, Chen
Yong Chen dan Dan Decker adalah beberapa di antaranya. Huang Wei dan
Anna Koor serta Elsa Pardosi mengambil pendekatan karya yang cukup
unik. Tampil dengan teknik bel canto yang mencolok, sungguh Huang
memiliki instrumen yang baik walau sedikit kurang cocok untuk karya
Bach.
Namun demikian secara umum, banyak yang
ditunggu dari Aula Simfonia Jakarta. Apalagi dengan bertambahnya usia,
gedung yang memang penuh dengan unsur kayu ini akan semakin matang
secara akustik. Dan yang pasti dengan adanya Aula Simfonia Baru ini,
kita berharap semakin semarak dunia musik sastra kita. Semoga.

Michael Budiman Mulyadi

http://mikebm.wordpress.com
Home:
Cipinang Indah II blok Y no. 8
Pondok Bambu
Jakarta 13430

 

Aula Simfonia: Pass with Good Grades

At last Indonesia paved its own way to build a representative concert hall. With 1227 seats capacity, Aula Simfonia Jakarta stamds in Kemayoran, at north side of Jakarta. Privately funded, this hall is the answer of so many people in Jakarta who long for a representative yet acoustically fine concert hall.

Aula Simfonia's interior is dominated in brown coloured, fully furnished wood which excels in reverberation and warm sound reflection. With fully filled hall, the sound is quite balanced almost all over the concert hall between the high frequency and also low frequency sound. The mould of sound is very solid yet still gives way for the ‘ringing’ of each sound made at the stage.

Aula Simfonia Jakarta is also the only one concert hall in Jakarta that includes a large pipe organ with 3 in it, making it the only concert hall in Jakarta to stage an organ concerto which will be held in 23rd and 24th October. We can say that those days will be the very day Indonesia will hear an organ concerto played on a pipe organ in a concert hall.

Stephen Tong, the architect, also designed this hall with stage as the focal point, which made possible all spectators face the stage directly. Tong also filled the hall with baroque style golden statues and also the pictures of famed composers which remind us of major symphonic halls both in Moscow and Vienna.

All to say, Aula Simfonia Jakarta passed with good grades acoustically and furbished uniquely.

Opening Concert

Sunday is the second day of Inauguration Concert. Jessie Chang with Jahja Ling shone brightly that evening. Performing the ‘Emperor’ Piano Concerto, Jessie Chang played superbly, strong in character yet controlled in every aspect of her piano playing. Lush colors also the strong point of her poignant performance.

Jahja Ling as always is stunning. Grabbing the attention of the orchestra, he managed to deliver a convincing interpretation of Beethoven 5th piano concerto. Orchestra was crisp, temperamental, and attentive with a touch of flexibility and sweetness.

The Magnificat by JS Bach was presented to showcase the hall’s ability to house the grandeur of music. Throng of choristers filled the stage, and was led by the architect and project initiator himself, Stephen Tong. The goal was met by the 100 or so Jakarta Oratorio Singers and hall’s main pipe organ continuo, but it also sacrificed the clarity and precision of the entire work due to its big and heavy approach.

Dan Decker was a fine baroque tenor, providing all the necessities of baroque music, light, agility and inevitable focus. Chen Yong Chen, Anna Koor and Elsa Pardosi all played a significant role in the cantata. Soprano Huang Wei showed her beautiful instrument through bel canto singing which is quite a unique approach to Bach’s music which some may find it unsuitable. 

 Jakarta at last has its own concert hall. Moreover, Aula Simfonia Jakarta concert hall will continue to evolve and finally reached its full potential in both quality and also perseverance. And now let us observe how this very hall will affect Jakarta’s own fine arts activities.

 

[Home] [Radio] [Publications] [Museums] [Events] [Embassy] [Performance Reviews] [Venues] [Musical Groups] [Theater] [TIM] [CIOFF] [Dining Out] [Galleries] [Arts Societies] [Education] [Indonesian Artists] [GuestBook] [Links]